Beranda | Artikel
Cahaya Hidayah bagi Kehidupan Manusia
16 jam lalu

Cahaya Hidayah bagi Kehidupan Manusia adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Fawaidul Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 7 Rabiul Awal 1448 H / 20 Agustus 2026 M.

Kajian Islam Tentang Cahaya Hidayah bagi Kehidupan Manusia

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا

“Apakah orang yang sebelumnya mati, kemudian Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah manusia, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan dan tidak dapat keluar darinya?” (QS. Al-An’am [6]: 122)

Para ulama ahli tafsir memaknai ayat ini sebagai gambaran orang yang sebelumnya kafir dan tersesat, kemudian diberi hidayah oleh Allah. Menunjukkan hidayah tersebut menghidupkannya dalam kehidupan yang sesungguhnya.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala menerangkan makna cahaya yang dengannya seorang hamba berjalan di tengah-tengah manusia.

Dalam ayat ini terdapat beberapa pelajaran. Pertama, seorang hamba yang memperoleh petunjuk Allah dan memahami agama dengan benar berjalan di tengah-tengah manusia dengan cahaya, sedangkan orang-orang lain berada dalam kegelapan.

Orang-orang yang tidak memiliki cahaya berada dalam kegelapan dan tidak memperoleh penerangan. Perumpamaan mereka seperti suatu kaum yang berjalan pada malam hari dalam kegelapan, kemudian tersesat dan tidak mengetahui jalan menuju tujuan mereka.

Adapun orang yang membawa cahaya dapat menerangi jalan yang ditempuhnya. Ia dapat melihat hal-hal yang dikhawatirkan menjerumuskannya sehingga mampu menghindarinya. Perbedaannya sangat jelas.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan ilmu agama sebagai cahaya penerang. Orang yang mempelajari agama akan terbimbing oleh cahaya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Langkahnya menjadi terang ketika meniti jalan Allah yang lurus dan menghindari jalan-jalan yang membawa kepada jurang kebinasaan.

Perbedaan antara hamba yang memiliki cahaya dan orang-orang yang tidak memilikinya sangatlah jauh. Orang yang tidak memiliki cahaya berjalan dalam kegelapan, tersesat, bahkan terjerumus ke dalam jurang kebinasaan. Semoga Allah melindungi kita dari keadaan tersebut.

Kedua, seorang hamba berjalan di tengah-tengah manusia dengan cahayanya. Orang-orang di sekitarnya dapat mengambil cahaya tersebut karena mereka membutuhkannya dalam perjalanan.

Hal ini berlaku bagi orang yang mau mengikuti petunjuknya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membawa cahaya yang sempurna dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Siapa yang mempelajari petunjuk beliau, mengikuti sunnah beliau, memahami, dan mengamalkannya, berarti ia mengambil bagian dari cahaya tersebut agar dapat melangkah dengan selamat.

Orang yang mengikuti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengambil manfaat dari cahaya yang menerangi seorang hamba. Dengan mengikuti cahaya tersebut, ia memperoleh keselamatan. Inilah keutamaan orang-orang yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Mereka memanfaatkan cahaya yang ada di hadapannya untuk diikuti sehingga memperoleh keselamatan dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketiga, seorang hamba berjalan dengan cahayanya pada hari kiamat, ketika orang-orang kafir dan munafik berada dalam kegelapan syirik dan kemunafikan.

Pada hari kiamat, shirath dibentangkan di atas permukaan neraka Jahanam. Orang beriman berjalan dengan cahayanya sehingga, dengan izin Allah, dimudahkan untuk melintasinya.

Adapun pelaku syirik dan orang-orang munafik berjalan dalam kegelapan syirik dan kemunafikan. Orang-orang yang melintasi shirath disebutkan dalam Al-Qur’an.

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا

“Tidak ada seorang pun di antara kamu yang tidak mendatanginya (jembatan yang dibentangkan di atas neraka Jahanam). Perkara ini pasti dan telah ditentukan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.” (QS. Maryam [19]: 71)

Ketika melintasi jembatan tersebut, manusia melewatinya dengan taufik dari Allah ‘Azza wa Jalla, sesuai dengan kadar amal perbuatannya di dunia. Ada yang melintasinya secepat kilat, sekejap mata, atau seperti kerdipan mata. Ada pula yang melintasinya seperti menunggang kuda pacuan, berlari, berjalan, dan seterusnya.

Kecepatan itu sesuai dengan sikap mereka terhadap agama Allah ‘Azza wa Jalla, petunjuk-Nya, dan petunjuk Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Semakin bersegera seseorang dalam mempelajari dan mengamalkan agama, semakin cepat pula Allah ‘Azza wa Jalla memudahkannya melintasi jembatan tersebut.

Ilmu Agama sebagai Cahaya

Ilmu agama yang Allah turunkan berfungsi memberikan cahaya bagi manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Karena itu, Iblis selalu berusaha memalingkan manusia dari ilmu agama, membaca Al-Qur’an, merenungkan isinya, serta membaca dan memahami hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dengan demikian, Iblis dapat membiarkan manusia berada dalam kegelapan dan menyesatkan mereka sesuai dengan keinginannya.

Imam Ibnu al-Jauzi rahimahullah Ta’ala berkata dalam kitab Talbis Iblis bahwa jebakan pertama yang dipasang Iblis untuk menyesatkan manusia adalah menghalangi mereka dari mempelajari ilmu agama yang benar. Ilmu adalah cahaya. Ketika cahaya itu berhasil dipadamkan dengan meninggalkan ilmu agama, manusia akan berada dalam kegelapan.

Jika berhasil memadamkan cahaya manusia, Iblis akan menyesatkan dan membingungkan mereka dalam berbagai kegelapan sesuai dengan keinginannya. Mereka pun mudah digiring menuju jalan-jalan yang membinasakan dan menyimpangkan manusia dari jalan Allah ‘Azza wa Jalla. Demikian agung petunjuk Islam. Islam memberikan kehidupan dan cahaya bagi manusia; keduanya merupakan sumber keselamatan dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla.

Allah Menghalangi antara Hamba dan Hatinya

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyeru kalian kepada sesuatu yang memberikan kehidupan kepada kalian. Ketahuilah bahwa Allah membatasi antara seseorang dan hatinya. Dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan. (QS. Al-Anfal [8]: 24)

Makna yang masyhur dari ayat ini adalah bahwa Allah menghalangi seorang mukmin dari kekufuran dan menghalangi seorang kafir dari keimanan. Allah Mahakuasa membolak-balikkan hati manusia.

إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ، يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ

“Sesungguhnya hati anak Adam seluruhnya berada di antara dua jari di antara jari-jari Ar-Rahman. Dia membolak-balikkan hati itu sesuai dengan kehendak-Nya.” (HR. Muslim)

Allah menghalangi seorang mukmin dari kekufuran atau seorang kafir dari keimanan. Ketika Allah menghendaki terbukanya hati seseorang sehingga menerima keimanan, Dia Mahakuasa melakukannya. Sebaliknya, ketika Allah menghendaki seseorang terhalangi, dia pun akan terhalangi.

Allah juga menghalangi orang-orang yang taat kepada-Nya dari perbuatan maksiat dan menghalangi pelaku maksiat sehingga tidak mampu mengamalkan ketaatan kepada-Nya. Pendapat ini dinisbatkan kepada Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan mayoritas ulama ahli tafsir.

Faedah yang dapat diambil adalah bahwa hati manusia tidak dapat dikuasai dan diarahkan oleh siapa pun selain Allah ‘Azza wa Jalla. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menyebutkan doa yang sering diucapkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi)

Karena hanya Allah yang menguasai hati manusia, seorang hamba harus terus memohon kepada-Nya agar diteguhkan di atas kebenaran. Allah ‘Azza wa Jalla adalah satu-satunya Dzat yang membolak-balikkan hati manusia.

Ibnul Qayyim menyebutkan pendapat lain tentang makna ayat tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala Mahadekat dengan hati hamba-hamba-Nya; tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala Mahatinggi di atas Arasy-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki pengawasan, penglihatan, pendengaran, dan pengetahuan yang sempurna. Dia dekat dengan hamba-hamba-Nya sesuai dengan kemahagungan dan kemahaan-Nya. Allah dekat dengan hati hamba-Nya; tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya.

Makna ini disebutkan oleh Imam Al-Wahidi dari Qatadah bin Di’amah As-Sadusi rahimahullah. Qatadah merupakan imam besar dari kalangan tabi’in, penduduk Basrah, sekaligus ulama ahli hadits dan ahli tafsir. Menurut Ibnul Qayyim rahimahullah, penafsiran kedua ini lebih sesuai dengan konteks dan makna tekstual ayat.

Memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya pada dasarnya harus bersumber dari hati. Jika hati telah memenuhi panggilan tersebut, anggota badan akan mengikutinya. Namun, anggota badan yang tampak mengikuti belum tentu bersumber dari hati. Contohnya adalah orang-orang munafik dan orang-orang yang beramal tanpa keikhlasan. Na’udzubillah min dzalik.

Karena memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya bersumber dari hati, tidaklah bermanfaat pemenuhan seruan itu melalui anggota badan tanpa ketundukan hati. Allah mengetahui apakah seorang hamba benar-benar memenuhi panggilan-Nya, apakah keinginan itu tersimpan dalam hatinya, atau justru hatinya menyelisihi dengan membangkang. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu; tidak ada satu pun yang tersembunyi dari-Nya.

Penafsiran inilah yang menurut Ibnul Qayyim rahimahullah paling sesuai dengan ayat tersebut. Pelajarannya, kemauan untuk melakukan kebaikan merupakan tanda yang baik. Namun, kemauan itu harus diusahakan agar bersumber dari hati sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan hidayah bagi kita.

Caranya adalah dengan merenungkan isi Al-Qur’an ketika membacanya, mengulang pelajaran agama, dan meyakinkan hati terhadap kebenaran, terutama kebenaran yang didukung dalil. Ketika mengkaji kitab-kitab aqidah Ahlus Sunah wal Jamaah, kita meyakinkan hati bahwa ajaran tersebut merupakan kebenaran yang sesuai dengan dalil, pertimbangan akal sehat, dan fitrah manusia.

Ajaran itu disampaikan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada para sahabat, kemudian para sahabat menyampaikannya kepada tabi’in, dan demikian seterusnya. Kebenaran itulah yang menyelamatkan orang yang menempuhnya dari kebinasaan yang menimpa banyak manusia.

Penafsiran pertama tidak berarti salah. Penafsiran itu juga benar dan merupakan pendapat jumhur ulama ahli tafsir, termasuk Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Berdasarkan penafsiran pertama, kesesuaian antara awal dan lanjutan ayat adalah bahwa orang-orang beriman diperintahkan memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya yang mengajak kepada kebaikan dalam kehidupan. Setelah itu, mereka diingatkan bahwa Allah membatasi manusia dari hatinya.

Orang yang merasa berat memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya, lalu berlambat-lambat serta menunda-nundanya, tidak boleh merasa aman dari kemungkinan Allah ‘Azza wa Jalla menghalangi dirinya dari hatinya. Akibatnya, ia tidak lagi mampu memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya sebagai hukuman karena meninggalkan kebenaran setelah kebenaran itu jelas.

Menunda-nunda kebaikan termasuk tentara iblis. Ancamannya terdapat dalam ayat ini. Jika seseorang merasa berat dan berlambat-lambat ketika diajak kepada kebenaran, Allah Subhanahu wa Ta’ala Mahakuasa menghalangi dirinya dari hatinya. Setelah itu, ia tidak lagi mampu memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya sebagai hukuman karena meninggalkan kebenaran yang telah jelas.

Penundaan menjadi sebab terhalanginya seseorang dari hidayah. Pada awalnya, seseorang mungkin masih memiliki keinginan untuk mengikuti kebenaran. Namun, jika Allah menghalanginya, keinginan itu dapat hilang sama sekali. Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menguasai hati dan membolak-balikkan hati manusia. Karena itu, ayat ini merupakan ancaman yang harus diperhatikan.

وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ

“Kami akan membolak-balikkan hati dan penglihatan mereka sebagaimana mereka tidak beriman kepada kebenaran itu pada pertama kalinya.” (QS. Al-An’am [6]: 110)

Ketika seseorang berpaling sejak awal dari seruan Allah dan Rasul-Nya, Allah menjadikan hatinya berpaling. Na’udzubillahi min dzalik.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Cahaya Hidayah bagi Kehidupan Manusia” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56479-cahaya-hidayah-bagi-kehidupan-manusia/